Pada kulminasinya, sebuahkarya seni bakal mengalami kejenuhan. Pada titik jenuh itulah, sang kreator bakal menciptakan hal-hal baru. Dalam lukisan, umpama. Ketika naturalisme membosankan, timbul ekspresionisme. Ketika ekspresionisme juga membosankan, timbul karya-karya baru yang lebih abstrak hasil paduan antara naturalisme serta ekspresionisme.Begitu juga yang terjadi pada wedding photography (gambar pernikahan). Sebagai tahap dari seni gambar, wedding bridal photo telah mengalami perjalanan proses kreatif yang sangat panjang. Bila pada awalnya para gambargrafer pernikahan hanya membikin karya-karya gambar “on the spot” saat hari pernikahan berjalan, sejalan dengan proses kreatif mereka dalam meperbuat pencarian, timbul seni gambargrafi pernikahan yang disebut prewedding. Lihat bridal photo package serta wedding bridal photo.

Wedding Bridal Fotografi

Prewedding dibangun lebih sebagai improvisasi profesional dari kejenuhan wedding photography biasa. Prosesnya, berjalan out door maupun in door cth bridal photo studio. Pelaku yang terlibat di dalamnya membikin konsep-konsep tertentu di lokasi tertentu jadi hasilnya pun menjadi sebuah karya seni gambar yang memadukan tak sedikit unsur. Mulai dari teknik gambar itu sendiri, wardrobe bridal photo package, maupun make up jadi gambar pernikahan ini menjadi lebih “berbicara” dari gambar pernikahan sebelumnya.

Menurutnya, dunia gambargrafi terbagi dua, gambargrafi industri serta ekspresi. Gambargrafi industri merupakan gambargrafi yang dibangun untuk mengikuti selera pasar, sedangkan gambargrafi ekspresi merupakan gambar yang dibangun lebih berdasarkan pada eksplorasi-eksplorasi seni gambargrafi. Bridal photo studio story berada di antara keduanya. Artinya, di satu segi masih mengikuti selera pasar, namun di segi lain juga masih memberbagi sentuhan-sentuhan seni baru hasil eksplorasi kepada karya seni sebelumnya. See wedding photography unique serta photography bridal.Masyarakat telah menyukai karya-karya yang tak asal cantik, mewah, lalu jepret. Bakal namun, masyarakat telah mengharapkan adanya “sesuatu” di balik gambar. Serta “sesuatu” itu, kata dodi, dapat berupa teknik serta seni gambar paling baik maupun pesan yang disampaikan gambar.